Vedars’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Cara Pembuatan Pestisida Organik Maret 20, 2008

Diarsipkan di bawah: Pestisida organik — iyha 09 @ 9:08 am

Pestisida adalah zat pengendali hama (seperti: ulat, wereng dan kepik). Pestisida Organik: adalah pengendali hama yang dibuat dengan memanfaatkan zat racun dari gadung dan tembakau. Karena bahan-bahan ini mudah didapat oleh petani, maka pestisida organik dapat dibuat sendiri oleh petani sehingga menekan biaya produksi dan akrab denga lingkungan.

Bahan dan Alat:

2 kg gadung.
1 kg tembakau.
2 ons terasi.
¼ kg jaringao (dringo).
4 liter air.
1 sendok makan minyak kelapa.
Parutan kelapa.
Saringan kelapa (kain tipis).
Ember plastik.
Nampan plastik.
Cara Pembuatan:

Minyak kelapa dioleskan pada kulit tangan dan kaki (sebagai perisai dari getah gadung).
Gadung dikupas kulitnya dan diparut.
Tembakau digodok atau dapat juga direndam dengan 3 liter air panas
Jaringao ditumbuk kemudian direndam dengan ½ liter air panas
Tembakau, jaringao, dan terasi direndam sendiri-sendiri selama 24 jam. Kemudian dilakukan penyaringan satu per satu dan dijadikan satu wadah sehingga hasil perasan ramuan tersebut menjadi 5 liter larutan.
Dosis:

1 gelas larutan dicampur 5-10 liter air.
2 gelas larutan dicampur 10-14 liter air.
Kegunaan:

Dapat menekan populasi serangan hama dan penyakit.
Dapat menolak hama dan penyakit.
Dapat mengundang makanan tambahan musuh alami.
Sasaran:

Wereng batang coklat, Lembing batu, Ulat grayak, ulat hama putih palsu.

Catatan: Meskipun ramuan ini lebih akrab lingkungan, penggunaannya harus memperhatikan batas ambang populasi hama. Ramuan ini hanya digunakan setelah polulasi hama berada atau di atas ambang kendali. Penggunaan di bawah batas ambang dan berlebihan dikhawatirkan akan mematikan musuh alami hama yang bersangkuta

 

kopi Arabika Maret 17, 2008

Diarsipkan di bawah: tAnaMan kOpi — iyha 09 @ 4:57 pm

kopi arabika (Coffea arabica) tumbuh di daerah dengan ketinggian 700-1700 m dpl, suhu 16-20 ° C, beriklim kering 3 bulan/tahun secara berturut-turut. kopi arabika peka terhadap penyakit HV, terutama bila ditanam di daerah kurang dari 500 dpl.

Tabel I. Jenis-Jenis Kopi yang termasuk Golongan Arabika :

Jenis

Keterangan

Abesinia

Bentuk pohon lebih kekar, bisa ditanam di dataran yang lebih rendah, lebih resisten terhadap penyakit HV.

Pasumah Bentuk pohon lebih kekar, agak resisten terhadap penyakit HV.
Margo Type Ukuran buah lebih besar dan kualitas lebih baik.
Congensis Biji berukuran sangat kecil, kurang produktif tetapi resisten terhadap penyakit HV.
 

kopi Exselsa Maret 17, 2008

Diarsipkan di bawah: tAnaMan kOpi — iyha 09 @ 4:39 pm

Kopi golongan ekselsa mempunyai adaptasi iklim yang lebih luas seperti kopi liberika, dan tidak terlalu peka terhadap penyakit HV. Jenis ini banyak dibudidayakan orang di dataran rendah yang basah, yaitu suatu daerah yang tidak sesuai untuk kopi robusta. Ciri khas kopi ini antara lain memiliki cabang primer yang bisa bertahan lama dan berbunga pada batang yang tua. Batangnya kekar dan memerlukan jarak tanam yang relatif kecil dan tidak beragam, seperti kopi leberika. Kelembaban jenis kopi ini antara lain kurang laku di pasaran meskipun harganya sering tinggi daripada kopi robusta. Beberapa klon yang baik ialah Exc. BGN 121 dan Exc. BGN 121-10 yang sering pula digunakan sebgai batang bawah.

 

kopi robusta Maret 17, 2008

Diarsipkan di bawah: tAnaMan kOpi — iyha 09 @ 3:47 pm

 t.jpg

Salah satu penyebab rendahnya produktivitas kopi arabika di Indonesia adalah kurang diperhatikannya penggunaan varietas unggul yang telah diajurkan. Masih banyak pekebun yang menggunakan bahan tanam berasal dari varietas lokal yang diperoleh karena kenampakannnya lebih unggul dibanding kopi disekitarnya. Bahkan beberapa diantaranya menggunakan benih varietas bukan anjuran yang berasal bukan dari kebun benih.

Salah satu faktor penentu berhasilnya budidaya kopi arabika adalah penggunaan bahan tanam sesuai anjuran. Dengan bahan tanam pilihan, teknik budidaya yang benarm serta sistem pengolahan yang baku, dapat diharapkan hasil produksi yang berkualitas baik.

  • Klon Kopi Robusta berdasarkan Iklim dan Tinggi Tempat
  • Klon Kopi Robusta untuk Batang Bawah
Klon Kopi Robusta Berdasarkan Tipe Iklim
dan Tinggi Tempat

Tipe Iklim
Tinggi Tempat
>400m dpl <400m dpl
A atau B BP 42, BP 234, BP 358, SA 237 BP 42, BP 234, BP409
C atau D BP 42, BP 234, BP 409 BP 42, BP 234, BP 288, BP 409

   Klon Unggul Kopi Robusta untuk
Batang Bawah (BP 308)

Klon Kopi Robusta Tahan Nematoda
Deskripsi Singkat Klon BP 308
Sifat Agronomi
Deskripsi
  • Perawakan
Besar, kokoh
  • Percabangan
Kuat, panjang ruas sedang
  • Daun
Helaian daun membusur, permukaan daun bergelombang dan menyudut, tepi daun bergelombang tegas, pupus coklat muda kehijauan
  • Perakaran
Melebar, akar lateral banyak
  • Pembungaan
Agak Lambat
  • Buah
Kecil tidak seragam, diskus kecil, buah muda beralur tegas, buah masak merah hati.
  • Biji
Kecil, banyak biji tunggal (62%)
  • Produktivitas
1.400-1.600 kg kopi pasar/ha/th.
 

sejarah bahasa indonesia Maret 14, 2008

Diarsipkan di bawah: ne ttg negara_Q terciNta — iyha 09 @ 2:22 pm

Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia yang sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang Dasar RI 1945, Pasal 36. Ia juga merupakan bahasa persatuan bangsa Indonesia sebagaimana disiratkan dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Meski demikian, ia hanya sebagian kecil dari penduduk Indonesia yang benar-benar menggunakannya sebagai bahasa ibu karena dalam percakapan sehari-hari yang tidak resmi masyarakat Indonesia lebih suka menggunakan bahasa daerahnya masing-masing sebagai bahasa ibu seperti bahasa Melayu pasar, bahasa Jawa, bahasa Sunda, dll. Untuk sebagian besar lainnya bahasa Indonesia adalah bahasa kedua dan untuk taraf resmi bahasa Indonesia adalah bahasa pertama. Bahasa Indonesia ialah sebuah dialek bahasa Melayu yang menjadi bahasa resmi Republik Indonesia.

Bahasa Indonesia diresmikan pada kemerdekaan Indonesia, pada tahun 1945. Bahasa Indonesia merupakan bahasa dinamis yang hingga sekarang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan, maupun penyerapan dari bahasa daerah dan asing. Bahasa Indonesia adalah dialek baku dari bahasa Melayu yang pokoknya dari bahasa Melayu Riau sebagaimana diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam Kongres Bahasa Indonesia I tahun 1939 di Solo, Jawa Tengah, “jang dinamakan ‘Bahasa Indonesia’ jaitoe bahasa Melajoe jang soenggoehpoen pokoknja berasal dari ‘Melajoe Riaoe’, akan tetapi jang soedah ditambah, dioebah ataoe dikoerangi menoeroet keperloean zaman dan alam baharoe, hingga bahasa itoe laloe moedah dipakai oleh rakjat di seloeroeh Indonesia; pembaharoean bahasa Melajoe hingga menjadi bahasa Indonesia itoe haroes dilakoekan oleh kaoem ahli jang beralam baharoe, ialah alam kebangsaan Indonesia”. atau sebagaimana diungkapkan dalam Kongres Bahasa Indonesia II 1954 di Medan, Sumatra Utara, “…bahwa asal bahasa Indonesia ialah bahasa Melaju. Dasar bahasa Indonesia ialah bahasa Melaju jang disesuaikan dengan pertumbuhannja dalam masjarakat Indonesia”.

Secara sejarah, bahasa Indonesia merupakan salah satu dialek temporal dari bahasa Melayu yang struktur maupun khazanahnya sebagian besar masih sama atau mirip dengan dialek-dialek temporal terdahulu seperti bahasa Melayu Klasik dan bahasa Melayu Kuno. Secara sosiologis, bolehlah kita katakan bahwa bahasa Indonesia baru dianggap “lahir” atau diterima keberadaannya pada tanggal 28 Oktober 1928. Secara yuridis, baru tanggal 18 Agustus 1945 bahasa Indonesia secara resmi diakui keberadaannya.

Fonologi dan tata bahasa dari bahasa Indonesia cukuplah mudah. Dasar-dasar yang penting untuk komunikasi dasar dapat dipelajari hanya dalam kurun waktu beberapa minggu. Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang digunakan sebagai penghantar pendidikan di perguruan-perguruan di Indonesia.

 

gini nich sejarahnya kopi Maret 13, 2008

Diarsipkan di bawah: tAnaMan kOpi — iyha 09 @ 1:01 am

180px-roasted_coffee_beans.jpg

Sejarah kopi dapat ditelusuri jejaknya dari sekitar abad ke-9, di dataran tinggi Ethiopia. Dari sana lalu menyebar ke Mesir dan Yaman, dan kemudian pada abad limabelas menjangkau lebih luas ke Persia, Mesir, Turki dan Afrika utara.

Pada awalnya kopi kurang begitu diterima oleh sebagian orang. Pada tahun 1511, karena efek rangsangan yang ditimbulkan, dilarang penggunaannya oleh para imam konservatif dan othodoks di majelis keagamaan di Makkah. Akan tetapi karena popularitas minuman ini, maka larangan tersebut pada tahun 1524 dihilangkan atas perintah Sultan Selim I dari Kesultanan Utsmaniyah Turki. Di Kairo, Mesir, larangan yang serupa juga disahkan pada tahun 1532, di mana kedai kopi dan gudang kopi ditutup.

Dari dunia Muslim, kopi menyebar ke Eropa, di mana minuman ini menjadi populer selama abad ke-17. Orang Belanda adalah yang pertama kali mengimpor kopi dalam skala besar ke Eropa, dan pada suatu waktu menyelundupkan bijinya pada tahun 1690, karena tanaman atau biji mentahnya tidak diijinkan keluar kawasan Arab. Ini kemudian berlanjut pada penanaman kopi di Jawa oleh orang Belanda.

Ketika kopi mencapai kawasan koloni Amerika, pada awalnya tidak sesukses di Eropa, karena dianggap kurang bisa menggantikan alkohol. Akan tetapi, selama Perang Revolusi, permintaan terhadap kopi meningkat cukup tinggi, sampai para penyalur harus membuka persediaan cadangan dan menaikkan harganya secara dramatis; sebagian hal ini karena didasari oleh menurunnya pesediaan teh oleh para pedagang Inggris. Minat orang Amerika terhadap kopi bertumbuh pada awal abad ke-19, menyusul terjadinya perang pada tahun 1812, di mana akses impor teh terputus sementara, dan juga karena meningkatnya teknologi pembuatan minuman, maka posisi kopi sebagai komoditas sehari-hari di Amerika menguat.

 

Hello world! Maret 6, 2008

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — iyha 09 @ 1:48 am

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!