Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.“ (QS.Yunus (10): 62-64).
Diantara ciri kekasih Allah ialah ia sangat mengenal Allah dengan baik. Jadi semakin dekat dengan-Nya, ia akan semakin diberi kemampuan menjelaskan dan merasakan keagungan dan kebesaran-Nya sehingga keyakinannya menjadi bulat total kepada-Nya.
Kekasih Allah itu bukan orang yang ma’shum, terbebas dari kemungkinan berbuat dosa dan khilaf. Justru mereka tetap diselimuti oleh kekurangan yang membuat dirinya tidak merasa bahwa kedudukannya sudah tinggi di sisi-Nya. Kata seorang ulama dan ahli hikmah: “Allah sengaja membuatnya berkekurangan supaya dia tetap merasa hina, merasa rendah, merasa gagal, sehingga dirinya senantiasa merasakan teramat malu di hadapan-Nya. Padahal orang yang merasa kotor dihadapan-Nya, niscaya semakin tinggi derajat dan kedudukannya di sisi-Nya.“
Kekasih Allah, tidak membutuhkan hal-hal yang bersifat duniawi, yang notabene hanya akan menjadi kesenangan sementara belaka. Bahkan mereka tidak meminta hal yang macam-macam, kendatipun karamah dari Allah. Pernah seorang Waliyullah bernama Imam Sahl ketika sedang berwudhu, tiba-tiba air yang mengalir di hadapannya itu berubah seketika menjadi lempengan emas. Bagaimana reaksi Imam Sah? Ternyata ia tidak terkejut ataupun merasa heran. Lisannya malah berguman: “Ah, Subhanallah. Kalau anak kecil, tentulah akan merasa gembira jika dihibur dengan mainan. Namun ya Allah, hamba tidak membutuhkan hal yang seperti ini.†(Buku Menggapai Derajat Kekasih Allah oleh Basyar Isya).
Kekasih Allah hanya merasa gembira kalau mereka bisa beramal dengan penuh keikhlasan kepada Allah. Ada kisah menarik. Seorang saudagar membeli seorang budak. Si budak itu meminta tiga syarat. Pertama, bila masuk waktu salat, maka ia jangan dilarang untuk salat. Kedua, ia hanya bersedia bekerja di waktu siang hari saja. Ketiga, meminta kamar yang tidak boleh dimasuki oleh siapapun. Si saudagar setuju.
Setelah beberapa lama, pada suatu malam ketika si Saudagar itu bangun di tengah malam, dari celah kamar si budak itu ia melihat sang budak sedang sujud. Ia dapat menangkap munajatnya. Bunyinya: “Ya Tuhanku. Engkau telah perintahkan daku berkhitmad melaksanakan tugas-tugas terhadap majikanku di waktu siang hari. Andaikan jikalau bukan tugas yang demikian, maka aku tidak akan bekerja selain semata-mata mengabdi kepada-Mu ya Allah pada malam dan pada siang hariku. Oleh sebab itu Engkau ampunilah aku ini wahai Tuhanku!“
Peristiwa itu menyentuh hati sang Saudagar. Dan esok harinya, ia ceritakan kepada isterinya tentang apa yang telah disaksikannya itu dan sekaligus ia berniat untuk membebaskan budaknya. Sang isteri setuju. Keduanya lalu memanggil budaknya dan menceritakan apa yang telah disaksikannya tadi malam, serta mendengar pula isi munajatnya kepada Allah.
Bagaimana reaksi si budak itu setelah mendengar penjelasan Tuannya? Ia sangat kerkejut dan berkata: “Ya Tuhanku! Aku telah bermohon kepada-Mu agar Engkau tidak memperlihatkan keadaanku kepada selain-Mu. Maka apabila Engkau telah membukakan dan memperlihatkan rahasiaku itu, matikanlah aku ya Tuhan!“ Demi setelah mengucapkan kalimat itu, dia pun rebah dan meninggal seketika itu juga. Masya Allah. (Buku Hakikat Hikmah Tauhid Dan Tasawuf (Al Hikam) oleh Prof.Dr.K.H.Muhibbuddin Waly). Demikianlah diantara contoh Kekasih Allah yang hatinya telah merasa jauh dengan makhluk, tetapi telah begitu dekat kepada Allah, sehingga hatinya selalu rindu kepada Allah.
Dikisahkan, Malik bin Dinar punya tetangga yang selalu bikin onar lingkungannya. Para tetangga mengeluh akibat ulah pemuda itu. Satu hari lelaki yang selalu bikin onar itu dipanggil oleh Malik bin Dinar dan diberi nasehat agar ia berkenan meninggalkan kampung untuk selamanya atau mengubah perilakunya: “Aku tak akan pergi dari kampung ini. Aku akan tetap tinggal di rumahku dan tidak akan pernah keluar,“ jawabnya. “Kalau begitu, kami akan berdoa kepada Allah semoga kamu mendapat kecelakaan,“ gertak Malik bin Dinar.
“Allah lebih mengasihiku daripada kepada penduduk kampung ini, “kilahnya. Jawaban ini membuat Malik dan juga para penduduk kampung bingung. Suatu senja, Malik melaksanakan ancamannya itu. Ia berdoa, agar tetangganya itu mendapat kecelakaan. Tapi Malik justru mendengar suara: “Jangan kamu doakan seperti itu, dia adalah kekasih Allah.“
Malik lalu segera menemui sang pemuda itu di rumahnya. Kedatangan Malik dikira akan mengusirnya. Sang pemuda pun ketakutan, sebab sebelumnya sudah berkali-kali dimarahi dan diancam oleh Malik yang berperawakan besar itu. Ia minta maaf pada sang tamu. “Aku datang bukan untuk mengusirmu. Tapi aku ingin melihat tanda-tanda kewalianmu,“ kilah Malik. “Aku bertaubat“ tuturnya sambil menangis tersisak-isak. Lalu ia pergi, tanpa arah, dan tidak pernah pulang lagi.
Beberapa tahun kemudian, Malik menunaikan ibadah haji. Dilihatnya kerumunan orang yang berada di Masjidil Haram. Ternyata, mereka mengerumuni mayat seorang pemuda, seraya mengucap: “Telah meninggal seorang pemuda. Semoga Allah mencurahkan maghfirah dan rahmat-Nya. Pemuda itu tak lain adalah tetangga Malik yang dulunya selalu bikin onar itu (Disarikan dari Buku Unjuk Rasa Ala Sufi oleh Herry Mohammad). Wallahualam. (pontianakpost)