Vedars’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Kekasih Allah Terkenal di Langit Mei 3, 2008

Diarsipkan di bawah: iSLaMi — iyha 09 @ 2:22 pm

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.“ (QS.Yunus (10): 62-64).

Diantara ciri kekasih Allah ialah ia sangat mengenal Allah dengan baik. Jadi semakin dekat dengan-Nya, ia akan semakin diberi kemampuan menjelaskan dan merasakan keagungan dan kebesaran-Nya sehingga keyakinannya menjadi bulat total kepada-Nya.

Kekasih Allah itu bukan orang yang ma’shum, terbebas dari kemungkinan berbuat dosa dan khilaf. Justru mereka tetap diselimuti oleh kekurangan yang membuat dirinya tidak merasa bahwa kedudukannya sudah tinggi di sisi-Nya. Kata seorang ulama dan ahli hikmah: “Allah sengaja membuatnya berkekurangan supaya dia tetap merasa hina, merasa rendah, merasa gagal, sehingga dirinya senantiasa merasakan teramat malu di hadapan-Nya. Padahal orang yang merasa kotor dihadapan-Nya, niscaya semakin tinggi derajat dan kedudukannya di sisi-Nya.“

Kekasih Allah, tidak membutuhkan hal-hal yang bersifat duniawi, yang notabene hanya akan menjadi kesenangan sementara belaka. Bahkan mereka tidak meminta hal yang macam-macam, kendatipun karamah dari Allah. Pernah seorang Waliyullah bernama Imam Sahl ketika sedang berwudhu, tiba-tiba air yang mengalir di hadapannya itu berubah seketika menjadi lempengan emas. Bagaimana reaksi Imam Sah? Ternyata ia tidak terkejut ataupun merasa heran. Lisannya malah berguman: “Ah, Subhanallah. Kalau anak kecil, tentulah akan merasa gembira jika dihibur dengan mainan. Namun ya Allah, hamba tidak membutuhkan hal yang seperti ini.” (Buku Menggapai Derajat Kekasih Allah oleh Basyar Isya).

Kekasih Allah hanya merasa gembira kalau mereka bisa beramal dengan penuh keikhlasan kepada Allah. Ada kisah menarik. Seorang saudagar membeli seorang budak. Si budak itu meminta tiga syarat. Pertama, bila masuk waktu salat, maka ia jangan dilarang untuk salat. Kedua, ia hanya bersedia bekerja di waktu siang hari saja. Ketiga, meminta kamar yang tidak boleh dimasuki oleh siapapun. Si saudagar setuju.

Setelah beberapa lama, pada suatu malam ketika si Saudagar itu bangun di tengah malam, dari celah kamar si budak itu ia melihat sang budak sedang sujud. Ia dapat menangkap munajatnya. Bunyinya: “Ya Tuhanku. Engkau telah perintahkan daku berkhitmad melaksanakan tugas-tugas terhadap majikanku di waktu siang hari. Andaikan jikalau bukan tugas yang demikian, maka aku tidak akan bekerja selain semata-mata mengabdi kepada-Mu ya Allah pada malam dan pada siang hariku. Oleh sebab itu Engkau ampunilah aku ini wahai Tuhanku!“

Peristiwa itu menyentuh hati sang Saudagar. Dan esok harinya, ia ceritakan kepada isterinya tentang apa yang telah disaksikannya itu dan sekaligus ia berniat untuk membebaskan budaknya. Sang isteri setuju. Keduanya lalu memanggil budaknya dan menceritakan apa yang telah disaksikannya tadi malam, serta mendengar pula isi munajatnya kepada Allah.

Bagaimana reaksi si budak itu setelah mendengar penjelasan Tuannya? Ia sangat kerkejut dan berkata: “Ya Tuhanku! Aku telah bermohon kepada-Mu agar Engkau tidak memperlihatkan keadaanku kepada selain-Mu. Maka apabila Engkau telah membukakan dan memperlihatkan rahasiaku itu, matikanlah aku ya Tuhan!“ Demi setelah mengucapkan kalimat itu, dia pun rebah dan meninggal seketika itu juga. Masya Allah. (Buku Hakikat Hikmah Tauhid Dan Tasawuf (Al Hikam) oleh Prof.Dr.K.H.Muhibbuddin Waly). Demikianlah diantara contoh Kekasih Allah yang hatinya telah merasa jauh dengan makhluk, tetapi telah begitu dekat kepada Allah, sehingga hatinya selalu rindu kepada Allah.

Dikisahkan, Malik bin Dinar punya tetangga yang selalu bikin onar lingkungannya. Para tetangga mengeluh akibat ulah pemuda itu. Satu hari lelaki yang selalu bikin onar itu dipanggil oleh Malik bin Dinar dan diberi nasehat agar ia berkenan meninggalkan kampung untuk selamanya atau mengubah perilakunya: “Aku tak akan pergi dari kampung ini. Aku akan tetap tinggal di rumahku dan tidak akan pernah keluar,“ jawabnya. “Kalau begitu, kami akan berdoa kepada Allah semoga kamu mendapat kecelakaan,“ gertak Malik bin Dinar.

“Allah lebih mengasihiku daripada kepada penduduk kampung ini, “kilahnya. Jawaban ini membuat Malik dan juga para penduduk kampung bingung. Suatu senja, Malik melaksanakan ancamannya itu. Ia berdoa, agar tetangganya itu mendapat kecelakaan. Tapi Malik justru mendengar suara: “Jangan kamu doakan seperti itu, dia adalah kekasih Allah.“

Malik lalu segera menemui sang pemuda itu di rumahnya. Kedatangan Malik dikira akan mengusirnya. Sang pemuda pun ketakutan, sebab sebelumnya sudah berkali-kali dimarahi dan diancam oleh Malik yang berperawakan besar itu. Ia minta maaf pada sang tamu. “Aku datang bukan untuk mengusirmu. Tapi aku ingin melihat tanda-tanda kewalianmu,“ kilah Malik. “Aku bertaubat“ tuturnya sambil menangis tersisak-isak. Lalu ia pergi, tanpa arah, dan tidak pernah pulang lagi.

Beberapa tahun kemudian, Malik menunaikan ibadah haji. Dilihatnya kerumunan orang yang berada di Masjidil Haram. Ternyata, mereka mengerumuni mayat seorang pemuda, seraya mengucap: “Telah meninggal seorang pemuda. Semoga Allah mencurahkan maghfirah dan rahmat-Nya. Pemuda itu tak lain adalah tetangga Malik yang dulunya selalu bikin onar itu (Disarikan dari Buku Unjuk Rasa Ala Sufi oleh Herry Mohammad). Wallahualam. (pontianakpost)

 

JiLbaB diPaKai, JilBab DiLePas Mei 3, 2008

Diarsipkan di bawah: iSLaMi — iyha 09 @ 2:20 pm

Busana muslimah tidak hentinya menjadi berita. Di negeri barat
sekuler fanatik, muslimah musti berjuang ekstrakeras dan tidak jarang harus
melalui pengadilan untuk bisa memakai jilbab. Jilbab dianggap simbol agama,
yang tidak semestinya dipakai di ruang publik. Kalau mau memakainya, cukup
di rumah atau saat beribadah. Pascaperistiwa 11 September 2001, pemakai
jilbab (jubah dan jenggot) juga dicurigai terkait terorisme.

Sayangnya di negara mayoritas muslim seperti Indonesia, pemakaian jilbab
juga tidak mulus. Kita tentu masih ingat di era orde baru, betapa banyaknya
siswi berjilbab menjadi korban kebijakan sekolah, yang atas nama uniformitas
tidak mengakui eksistensi jilbab. Kini di era reformasi kondisinya sudah
banyak berubah. Pemerintah melalui sekolah, umumnya sudah menoleransi
pemakaian jilbab, meskipun secara kasuistik masih ada lembaga pendidikan dan
instansi yang mempersoalkannya.

Di banyak perusahaan swasta, khususnya supermarket, dealer kendaraan
bermotor, karyawati berjilbab kelihatannya belum mendapat tempat. Tidak itu
saja, oleh perusahaan –termasuk yang mengerahkan sales girl- sepertinya ada
tuntutan agar mereka memakai rok di atas lutut, supaya paha yang dianggap
sebagai salah satu daya tarik konsumen bisa kelihatan. Tak heran, karyawati
yang fanatik pergi dan pulang pakai jilbab, tapi di tempat kerja terpaksa
dilepas.
Sebuah fenomena yang cukup mengharuskan, saat ini sejumlah sekolah umum di
Banjarmasin seperti SMP dan SMA juga memberlakukan jilbab bagi siswinya,
meski jilbab dimaksud belum begitu ideal. Ini karena dalam manajemen
pendidikan berbasis sekolah dan masyarakat, sekolah diberi kewenangan
mengatur pakaian seragam siswa yang bersinergi dengan nilai sosio-religius
yang hidup di lingkungan masyarakat setempat.

Kelihatannya memang terjadi lompatan kemajuan signifikan sosialisasi jilbab
dalam sepuluh tahun terakhir. Ini dipicu pula oleh penampilan sejumlah artis
beken yang ikut menyosialisasikan jilbab ke tengah khalayak. Inneke
Koesherawati, Marissa Haque, Dewi Hughes adalah beberapa di antara artis
jilbabwati yang semakin populer karena komitmennya terhadap jilbab. Menyusul
pendahulunya seperti Ida Royani, Ida Leman, Dewi Yull atau peragawati Ratih
Sanggarwati. Artis ini bukannya tenggelam setelah berjilbab, seperti
dikhawatirkan beberapa kalangan, tapi namanya tetap berkibar dan rezekinya
terus mengalir deras.

Tampilnya artis di garda terdepan dalam pemakaian jilbab, patut disambut
gembira. Seperti dikomando, di masyarakat kegandrungan terhadap busana
muslimah, termasuk jilbab semakin menguat. Meski jilbab mereka belum begitu
ideal, karena cenderung jilbab model dan jilbab gaul, paling tidak sudah
mendekati target ideal.

Sayang, pemakaian jilbab di kalangan sementara artis belum konsisten.
Seperti banyak diberitakan di acara infotainmen, sejumlah artis baru-baru
ini nekat menanggalkan jilbabnya, setelah sekian tahun mengakrabinya. Tya
Soebiyakto dan Trie Utami adalah di antara artis yang disorot. Banyak publik
menyesalkan inkonsistensi mereka terhadap jilbab. Namun ada yang mencoba
berhipotesis, bahwa penanggalan jilbab tersebut boleh jadi karena Tya dan
Trie baru bercerai dengan suaminya. Tetapi hipotesis ini tertolak, karena
Dewi Hughes dan Cheche Kirani atau Dewi Yull yang juga bermasalah dalam
rumah tangganya justru tetap konsisten dengan jilbab.

Konversi Agama
Melengkapi keprihatinan publik, ada pula ustadz muda yang sangat
menyayangkan inskonsistensi artis memakai jilbab. Menurut ia, hal ini
dikhawatirkan termasuk kategori mempermainkan ajaran agama. Agama seolah
jadi sekadar pakaian, bisa dikenakan dan ditanggalkan sewaktu-waktu.

Saya memaklumi keprihatian publik terhadap masalah ini. Bagaimana pun artis
adalah publik figur, sehingga sikap dan cara berpakaian mereka sangat
berpengaruh terhadap masyarakat. Sudah bukan rahasia lagi, masyarakat kita
termasuk filming society, masyarakat yang suka menonton film, iklan dan
sinetron di tivi, membaca majalah hiburan dan sejenisnya, lantas menirunya.
Suka atau tidak dan terlepas dari berbagai kontroversi, artis dapat
dijadikan sebagai iklan Islam. Tidak hanya di bulan puasa artis ramai-ramai
berdakwah, tetapi juga dalam keseharian mereka.

Kalangan ahli sosiologi agama, membagi konversi dalam dua macam. Pertama,
change from one state, dan kedua, change from one religion to another. Yang
pertama adalah berubah dari satu keadaan kepada keadaan lain, namun tetap
dalam agamanya. Artis muslimah yang dulunya senang buka-bukaan, lantas
memakai jilbab atau sebaliknya, termasuk kategori pertama. Rhoma Irama yang
dulu produktif dengan lagu cinta, lalu berubah ke tema dakwah. Motenggo
Bosye yang di kala mudanya produktif dengan novel cinta dan agak porno,
tetapi di akhir hayatnya justru beralih ke novel sufistik, juga masuk di
sini. Sedangkan artis nonmuslim yang masuk Islam, seperti WS Rendra, Ray
Sahetapy, Cindy Claudia Harahap, Dewi Hughes, Marini Zumarnis, Tamara
Bleszinsky, Lulu Tobing, dan masih banyak lagi, tergolong konversi agama
jenis kedua. Begitu pula Nafa Urbach yang masuk Islam lalu konon balik lagi
ke agama semula, juga masuk golongan ini.

Tetapi apa pun jenisnya, para ahli menyatakan konversi tidak berdiri
sendiri. Beberapa variable dominan itu terjadi karena: a) pengaruh
supernatural berupa hidayah Allah, pengetahuan, penyelidikan, perenungan,
sehingga seseorang menemukan cahaya kebenaran; b) pengaruh eksternal dari
pergaulan, kegiatan rutin, anjuran teman, pengaruh pemimpin keagamaan,
kolega dan teman prpfesi; c) faktor internal seperti keretakan dan
permasalahan dalam keluarga, perubahan status perkawinan, pekerjaan dan
sejenisnya. Jadi masalah dalam keluarga, seperti perceraian, hanya salah
satu variable yang tidak begitu dominan.

Bukan Jilbab Hati
Terhadap tarik ulur pemakaian jilbab ini akan lebih baik bila kita
menyikapinya secara arif dan bijaksana. Bagi yang mau berjilbab, kita
ucapkan selamat dan terimakasih, karena ia mengamalkan sebagian agamanya.
Wanita berjilbab tidak hanya menyelamatkan dirinya sendiri, tapi juga orang
lain. Tersalurnya hasrat lelaki secara liar dan merebaknya fantasi syahwat
mereka, justru karena memandang wanita yang suka membuka aurat. Wanita
jangan menyalahkan lelaki dalam soal ini, sebab ‘dari sononya’ lelaki
ditakdirkan menyenangi wanita (QS 3: 14). Kalau lelaki tidak lagi menyenangi
wanita, itu justru abnormal seperti menimpa kaum Nabi Luth di negeri Sodom,
dan itu sangat terkutuk.

Agama seseorang lebih selamat bila ia konsisten berjilbab. Seperti
diberitakan sebuah media, gara-gara memakai jilbab seorang wanita bersama
keluarganya urung termakan makanan haram di sebuah res toran di Jakarta.
Melihat si wanita berjilbab, pelayannya yang jujur menyatakan bahwa makanan
yang dipesan mengandung unsur haram. Lantas si ibu bertanya kepada pelayan,
bagaimana kalau pembelinya tidak berjilbab. Dijawab, itulah susahnya, sulit
diketahui mana yang muslim dan non muslim.

Bagi yang belum berjibab, diharapkan suatu saat mau berjilbab atau apa pun
jenis pakaiannya asalkan menutup aurat. Perlu dicegah adalah adanya anggapan
miring terhadap pemakaian jilbab. Katanya, biar tidak berjilbab, yang
penting sudah memakai jilbab hati, yaitu berhati baik dan berakhlak terpuji.
Daripada berjilbab tapi perilakunya buruk. Anggapan begini perlu diluruskan.

Jilbab hati sesungguhnya tidak ada, yang ada jilbab dipakai untuk menutup
aurat. Biar hatinya baik kalau aurat terbuka, ia masih berdosa besar.
Alangkah anggunnya bila wanita yang baik hatinya sekaligus berjilbab. Memang
tidak sedikit wanita berjilbab tetapi masih berperilaku amoral.

Heboh VCD porno ‘Mataram Terbuka’, pelakunya juga wanita berjilbab. Tetapi
itu bisa saja direkayasa dengan maksud melecehkan, atau ada siswi/mahasiswa
berjilbab yang terperosok dalam gaul bebas dan seks pranikah. Meski
demikian, bukan berarti jilbab tidak penting dan boleh ditanggalkan begitu
saja. Aturan hukum agama tidak boleh dibalik dan dikunyah-kunyah. Tidak ada
manusia sempurna, tapi minimal dengan berjilbab aurat sudah terpelihara.
Jilbab bukan simbol, tapi identitas dan tuntutan agama. Ada pun hati (qalbu)
memang perlu dimanej lebih baik agar melahirkan perilaku terpuji, dan ini
memerlukan waktu lama.

Mengacu kepada teori konversi, kesadaran dan komitmen memakai jilbab erat
kaitannya dengan faktor eksternal. Karena itu, para orangtua hendaknya
menyuruh anak wanitanya dan para suami hendaknya menyuruh istrinya menutup
aurat. Patut disesalkan, karena ternyata tren buka-bukaan dan pakaian ketat
yang mewabah selama ini, tidak hanya kehendak si wanita, tapi justru
ditoleransi bahkan disuruh oleh orangtua atau suaminya. Nah.
Pemerhati masalah sosial, tinggal di Banjarmasin e-mail: barjie_b@xxxxxxxxx

 

ciri2 WaNita Surga April 19, 2008

Diarsipkan di bawah: iSLaMi — iyha 09 @ 9:44 am
Pada hakikatnya wanita ahli Surga adalah wanita yang taat kepada Allah
dan Rasul-Nya. Seluruh ciri-cirinya merupakan cerminan ketaatan yang dia
miliki. Di antara ciri-ciri wanita ahli Surga adalah : 1. Bertakwa. 2. Beriman
kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari
kiamat, dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk. 3. Bersaksi
bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, bersaksi bahwa Muhammad
adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di
bulan Ramadlan, dan naik haji bagi yang mampu. 4. Ihsan, yaitu beribadah kepada
Allah seakan-akan melihat Allah, jika dia tidak dapat melihat Allah, dia
mengetahui bahwa Allah melihat dirinya. 5. Ikhlas beribadah semata-mata kepada
Allah, tawakkal kepada Allah, mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut terhadap
adzab Allah, mengharap rahmat Allah, bertaubat kepada-Nya, dan bersabar atas
segala takdir-takdir Allah serta mensyukuri segala kenikmatan yang diberikan
kepadanya. 6. Gemar membaca Al Qur'an dan berusaha memahaminya, berdzikir
mengingat Allah ketika sendiri atau bersama banyak orang dan berdoa kepada
Allah semata. 7. Menghidupkan amar ma'ruf dan nahi mungkar pada keluarga dan
masyarakat. 8. Berbuat baik (ihsan) kepada tetangga, anak yatim, fakir miskin,
dan seluruh makhluk, serta berbuat baik terhadap hewan ternak yang dia miliki.
9. Menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, memberi
kepada orang, menahan pemberian kepada dirinya, dan memaafkan orang yang
mendhaliminya. 10. Berinfak, baik ketika lapang maupun dalam keadaan sempit,
menahan amarah dan memaafkan manusia. 11. Adil dalam segala perkara dan
bersikap adil terhadap seluruh makhluk. 12. Menjaga lisannya dari perkataan
dusta, saksi palsu dan menceritakan kejelekan orang lain (ghibah). 13. Menepati
janji dan amanah yang diberikan kepadanya. 14. Berbakti kepada kedua orang tua.
15. Menyambung silaturahmi dengan karib kerabatnya, sahabat terdekat dan
terjauh. Demikian beberapa ciri-ciri wanita Ahli Surga yang kami sadur dari
kitab Majmu' Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah juz 11 halaman 422-423.
Ciri-ciri tersebut bukan merupakan suatu batasan tetapi ciri-ciri wanita Ahli
Surga seluruhnya masuk dalam kerangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah
Ta'ala berfirman : " ... dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya,
niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga yang mengalir di dalamnya
sungai-sungai sedang mereka kekal di dalamnya dan itulah kemenangan yang
besar." (QS. An Nisa' : 13) Wallahu A'lam Bis Shawab.